Membuahkan Gedong Gincu Di Luar Musim

dodi-budirokhman-s-p-m-t-aBuah Mangga (Mangifera indica L) merupakan buah tropis yang disukai oleh konsumen dari berbagai kalangan dan banyak ditanam di Indonesia. Buah mangga juga merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia  (Direktorat Budidaya Tanaman Buah, 2011). Kandungan gizi pada buah mangga, bermanfaat bagi perbaikan gizi, dimana daging buah mangga yang berwarna merah oranye, banyak mengandung vitamin A yang sangat dibutuhkan tubuh manusia.  Selain vitamin A, buah mangga juga mengandung vitamin C yaitu berkisar antara 6 – 30 mg/100 gram buah (Suyanti, Sulusi Prabawati dan Setyadjit, 2006). Apabila memperhatikan data yang diperoleh dari Diretorat Jenderal PPHP, Deptan RI, (2012) maka ekspor buah mangga dari Indonesia disinyalir lebih banyak diserap oleh pasar dari negara-negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.  Selanjutnya  peluang pasar lainnya yang dapat diraih produsen mangga termasuk Indonesia antara lain : Amerika, Kanada (4,2 %), Eropa  (15 %), China ( 9 %) Timur Tengah (14 %), Jepang (3 %) dan Singapura (5 %). Dengan memperhatikan uraian-uraian tersebut di atas, maka cukup beralasan apabila permintaan mangga asal Indonesia di negara-negara tujuan ekspor mempunyai peluang pasar yang tinggi khususnya varietas Gedong Gincu yang  dikembangkan di Kabupaten Cirebon, Majalengka dan Indramayu, karena jenis mangga tersebut  sangat disukai dan mempunyai potensi pasar yang baik di luar negeri, sehingga usaha agribisnis buah mangga untuk pemasaran luar negeri (ekspor) tersebut sangat berpotensi untuk terus dikembangkan. Sentra produksi mangga yang ada di Provinsi Jawa Barat adalah  Kabupaten Cirebon, Majalengka dan Indramayu. Faktor yang menyebabkan  tanaman mangga dapat tumbuh baik di Kabupaten Cirebon Majalengka dan Indramayu  adalah karena secara umum kondisi geografis maupun agroklimat yang berada di wilayah tersebut rata-rata sesuai dengan syarat tumbuh tanaman buah mangga.  Salah satu jenis buah mangga yang sedang dikembangkan di Kabupaten Cirebon, Majalengka dan Indramayu  adalah  buah mangga  Gedong Gincu. Buah mangga gedong  gincu  tersebut  merupakan salah satu jenis buah tropis yang  sangat  eksotis (exotic fruit), karena buah  ini memiliki ukuran,  bentuk,  warna, rasa dan aroma yang khas serta sangat menarik  sehingga disukai oleh konsumen di luar negeri dan sudah menjadi komoditi ekspor Indonesia (Direktorat Budidaya Tanaman Buah, 2011). Bentuk buah mangga gedong gincu tersebut agak bulat berukuran sedang  dengan ukuran  berat rata-rata 200 gram/buah, panjang 8 cm dan lebar 7 cm. Sedangkan  warna  kulit buahnya kuning cerah merah keunguan serta daging buahnya  jingga cerah dengan ketebalan 8 cm. Ciri khas lain pada buah mangga gedong gincu tersebut adalah  rasa manis legit  disertai  aroma harum yang tajam dan khas sehingga  membuat banyak orang terpesona  dan banyak diminati oleh pasar di luar negeri (Aak, 1991).  Disamping buah mangga gedong gincu memiliki vitamin A terbesar diantara buah mangga lainnya yaitu 16.400 SI.  (Suyanti, Sulusi Prabawati dan Setyadjit, 2006). Di Indonesia termasuk di Kabupaten Cirebon, Majalengka dan Indramayu , sebagian besar buah mangga Gedong Gincu dipanen musiman, pada saat  musim panen ketersediaan buah mangga Gedong Gincu melimpah dan pada musim lain buah mangga Gedong Gincu tidak ditemukan di pasar, sehingga keberadaan  buah mangga gedong gincu tidak tersedia sepanjang tahun. Keadaan seperti ini dari agribisnis tentu kurang menguntungkan, sehingga tidak dapat memenuhi permintaan pasar sepanjang tahun, baik untuk pasar dalam negeri maupun luar negeri (ekspor). Sampai saat ini di Indonesia pengaturan pembungaan masih disandarkan pada pengaturan alami. Manipulasi pengaturan pembungaan dan pembuahan masih belum dilakukan secara komersial. Padahal, pengaturan  pembungaan pohon buah-buahan secara ekonomi sangat penting untuk memperoleh buah di luar musimnya. Teknologi Off Season Teknik budidaya buah mangga dengan menggunakan Teknologi Off Season tersebut pada dasarnya adalah mempercepat awal musim buah dan memperlambat akhir musim buah. Sehingga tanaman buah mangga yang diberi sentuhan Teknologi Off Season tersebut dapat dipanen sepanjang tahun. Salah satu cara untuk menghasilkan buah mangga sepanjang tahun tersebut yaitu melalui pengaturan pembungaan. Pengaturan pembungaan ini dapat dilakukan  melalui pemangkasan produksi dan pemberian ZPT  tertentu yang diikuti dengan pemeliharaan bunga  tersebut secara maksimal melalui pemberian nutrisi-nutrisi yang seimbang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga bunga yang muncul cukup kuat dan tidak rontok. Berdasarkan teori pembungaan, pengaturan pembungaan dapat diupayakan melalui dua teori pembungaan, yang pertama menyatakan inisiasi pembungaan pada tanaman tidak akan terjadi kecuali jika ada rangsangan, sedangkan teori kedua menyatakan tanaman selalu berpotensi untuk inisiasi bunga tetapi kadang-kadang tertekan oleh kondisi yang tidak sesuai (Bernier et al., 1985dalam Lizawati, 2008). Secara alami bunga mangga muncul setelah periode pertunasan. Periode waktu yang dibutuhkan munculnya tunas sampai tanaman berbunga butuh waktu yang relatif lama.  Bahkan beberapa tunas  tanaman mangga pada tahun berikutnya tidak mengalami flush (tunas baru) sehingga produktivitas rendah.  Selanjutnya kekurangan sinar matahari dapat mempengaruhi terhambatnya pembungaan. Kekurangan cahaya matahari menyebabkan pohon tumbuhnya lebat dan dahan-dahan serta ranting-ranting terlalu rapat, sehingga bunga tidak muncul (Notodimedjo, 1997). Kesiapan tanaman untuk menghasilkan bunga dapat dilihat berdasarkan nisbah antara karbohidrat (C) dan Nitrogen (N) (nisbah C/N). Tanaman siap berbunga apabila nisbah C/N meningkat. Pengaturan ini dapat dilakukan melalui pemangkasan produksi. Pemangkasan produksi dilakukan dengan memangkas cabang mangga untuk merangsang terbentuknya tunas vegetatif-generatif sehingga bidang percabangan lebih luas dan memungkinkan untuk meningkatkan produksi. Hasil penelitian pengaruh macam pemangkasan pada tanaman mangga menunjukkan bahwa pemangkasan 1 flush  tepat pada bukunya memberikan jumlah tunas dan jumlah buah per ranting tertinggi (Purbiati dan Yuniastuti, 1992 dalam Ramdan Hidayat, 2005). Tindakan mekanis dengan cara pemangkasan dapat mendorong tanaman dapat tumbuh dengan baik. Pemangkasan dapat meningkatkan rasio karbon dan nitrogen, sehingga mengakibatkan penumpukan karbohidrat yang merangsang pembentukan bunga dan buah. Untuk menstimulasi keluarnya malai bunga pada tunas baru setelah dilakukan pemangkasan maka perlu ada zat yang dapat mengaturnya, zat  tersebut sering disebut zat pengatur tumbuh (ZPT). Salah satu ZPT yang dapat digunakan yitu dari golongan retardan. Zat penghambat tumbuh (retardan) sebagai suatu senyawa organik yang dapat menghambat perpanjangan batang,  meningkatkan warna  hijau dari daun dan secara tidak langsung mempengaruhi pembungaan tanpa menyebabkan pertumbuhan yang abnormal (Weaver, 1972 dalam Lizawati, 2008). Retardan yang sudah banyak dibuktikan sangat efektif menekan pertumbuhan vegetatif adalah paclobutrazol (Efendi, 1996).  Zat penghambat biosintesis gibberelin yaitu paclobutrazol, dilaporkan dapat menginduksi pembungaan  beberapa pohon buah-buahan tropik (Voon et al.,1992 dalam Lizaawati, 2008. Zat pengatur  tumbuh dari golongan retar dan mampu menstimulasi pertumbuhan reproduktif. Paclobutrazol juga berfungsi mengistirahatkan titik tumbuh sehingga sel berhenti membelah, akibatnya hasil fotosintesis meningkat dan C/N rasio tinggi. Hal ini akan merangsang titik tumbuh keluarnya bunga, bukan daun. Dosis optimum paklobutrazol untuk menginduksi pembungaan mangga dan menekan pertumbuhan vegetatif tanpa merusak pohon berkisar antara 2,5-4 g bahan aktif/pohon atau setara dengan 10-16 cc golstar/ liter air / pohon. Perlakuan yang melebihi  2,5-4 g bahan aktif (paklobutrazol) per pohon,  akan menyebabkan munculnya perubahan bentuk daun yang menandakan bahwa pada konsentrasi diatas 20 cc/ liter air /pohon terjadi efek negatif dari paklobutrazol. SELAMAT MENCOBA….   Oleh : Dodi Budirokhman, S.P., M.T.A

Tinggalkan Balasan